Dosa dalam Moral Kristiani
Pengantar
Teologi
moral adalah bagian teologi praksis yang membicarakan kebiasaan manusia yang
tampak dalam tindakan. Kebiasaan yang dimaksud dalam teologi moral bukanlah kebiasaan
frekuentif asal-asalan, tetapi kebiasaan manusia yang berfikir dan beriman yang
berkadar baik dan benar.[1] Tindakan yang biasa
dilakukan manusia mengandung nilai-nilai dan norma, yang direfleksikan dengan
pikiran dan moral. Berpikir secara khusus mengandunsur akal budi manusia dan
beriman mengandung aspek kepercayaan. Dengan berpikir dan beriman manusia
memampukan dirinya dalam dalam berperilaku dan bertindak yang diyakini dan dipikirkan.
Manusia dengan akal memahami hal yang benar dan salah. Dalam iman manusia
dituntun pada pemahaman yang benar dan salah pada suatu tindakan sebagaimana
yang dikehendaki Tuhan. Oleh sebab itu hendak dijelaskan kebiasaan manusia yang
berpikir dan beriman dalam tindakan sehari-hari.
Dosa
Merusak Relasi dengan Allah
Pertama
perlu diketahui bahwa manusia diciptakan Allah segambar dan serupa dengan Allah
(Kej. 1:26-27). Dalam pengertian ini mau menunjukkan bukti bahwa Allah ingin
menjalin relasi yang unik dan dinamis, dan membuat perjanjian dengan manusia
menurut gambar-Nya. Dengan keadaan tersebut manusia memiliki kemampuan untuk
melakukan yang baik dan benar serta mempertanggungjawabkannya. Manusia dituntut
untuk bertindak dan berlaku sebagaimana gambar Allah. Maka untuk menjaga relasi
dengan Allah, manusia harus mampu melakukan perbuatan yang baik dan benar. Jika
manusia tidak dapat melakukan tindakan yang secitra dengan Allah, hal itu akan
merusak relasi dengan-Nya. Tindakan yang merusak relasi dengan Allah adalah
perbuatan dosa. Manusia yang berdosa bukan hanya merusak relasi yang dibangun
bersama Allah, tetapi juga mengaburkan gambar Allah yang ada dalam dirinya.
Dalam
Perjanjian Baru manusia tertutup dengan inisiatif Allah yang membangun relasi
lewat pewahyuan-Nya. Kedatangan Yesus Kristus menjadi tanda Allah menunjukkan
kasih kepada manusia. Yesus hadir untuk mewartakan Kerajaan Allah. Dosa
sebenarnya merupakan suatu penggunaan kebebasan diri. Ia memiliki semangat
untuk mementingkan diri yang berakar dalam hati dan kehendak diri yang
berperang melawan rencana Allah.[5] Perjanjian Baru
membahasakan bahwa manusia pendosa tidak mau menjadi anak dari Bapa yang baik. Hal
ini seperti kisah tentang anak yang hilang (Luk 15:11-31). Kebebasan yang
dimiliki manusia dapat membuat diri menjadi hilang arah utamanya, yakni merubah
haluan dari tujuan kepada Kerajaan Allah. Maka dengan penuh tanggung jawab,
manusia bermoral menyadari diri untuk lebih setia akan iman kepadan Kristus.
Penutup
Keadaan
manusia yang diberikan kebebasan perlu adanya rasa berdosa pada diri manusia. Manusia
perlu tahu tindakan yang dilakukan dirinya. Apakah melanggar hukum Allah atau
tidak. Keadaan dunia saat ini, penting untuk kembali menyadari diri sebagai manusia
yang bersalah bila melakukan dosa. Bila rasa ini tidak muncul pada diri kita
saat ini, maka dunia akan menimbulkan banyak manusia yang berperang melawan
kehendak Allah dan menjauhkan diri dari Allah. Maka seharusnya manusia tidak
melawan Allah dengan dosa, melainkan manusia harus melawan dosa itu.
Manusia
memiliki iman dan ratio yang memapukan diri berkhendak untuk menguasai diri. Kedua
hal ini menjadi merupakan dua hal yang membuka terang pikiran manusia untuk
mengerti dan memahami suatu tindakan yang baik dan benar. Tindakan yang baik
dan benar akan terlaksana bila iman dan ratio itu terus dikembangkan. Dan dalam
hal dosa iman lebih penting supaya manusia semakin rendah hati percaya kepada
Allah dalam melaksanakan hidup.
[4] Largus Nadeak. Topik-topik Moral Fundamental ... Hal. 114
[5] David Bohr. Catholic Moral Tradition (
[3] Largus Nadeak. Topik-topik Moral Fundamental ... Hal. 114
Komentar
Posting Komentar