Dosa dalam Moral Kristiani

Pengantar

Teologi moral adalah bagian teologi praksis yang membicarakan kebiasaan manusia yang tampak dalam tindakan. Kebiasaan yang dimaksud dalam teologi moral bukanlah kebiasaan frekuentif asal-asalan, tetapi kebiasaan manusia yang berfikir dan beriman yang berkadar baik dan benar.[1] Tindakan yang biasa dilakukan manusia mengandung nilai-nilai dan norma, yang direfleksikan dengan pikiran dan moral. Berpikir secara khusus mengandunsur akal budi manusia dan beriman mengandung aspek kepercayaan. Dengan berpikir dan beriman manusia memampukan dirinya dalam dalam berperilaku dan bertindak yang diyakini dan dipikirkan. Manusia dengan akal memahami hal yang benar dan salah. Dalam iman manusia dituntun pada pemahaman yang benar dan salah pada suatu tindakan sebagaimana yang dikehendaki Tuhan. Oleh sebab itu hendak dijelaskan kebiasaan manusia yang berpikir dan beriman dalam tindakan sehari-hari.

     Dalam tindakan sehari-hari manusia melakukan tindakan yang melanggar hukum dan standar dari Tuhan yang telah difirmankan-Nya.[2] Pelanggaran itu biasa disebut “Dosa”. Dosa merupakan suatu pelanggaran tatanan atau kepentingan sosial yang digariskan dalam suatu hukum; bukan terutama pelanggaran terhadap nilai-nilai tetapi karena ia telah melakukan penghianatan akan relasinya kepada Allah. oleh sebab itu dosa itu juga tindakan manusia secara sadar atau kemauan untuk melawan Tuhan. Dengan kesadaranya manusia sering melakukan tindakan yang tidak sesuai dengan kehendak Allah, baik itu terhadap orang lain maupun dari dirinya sendiri. Keadaan berdosa membuat orang akan menjadi jauh dari Allah. Manusia akan kehilangan relasi dengan Allah bila dirinya selalu melakukan dosa. Karena jika telah menolak Allah maka rasa untuk melakukan atau bertindak yang benar akan tidak terlaksana. Hal ini tidak jauh dari pikiran, motif, atau perbuatan salah mengakibatkan keterasingan diri dari Tuhan.

Dosa Merusak Relasi dengan Allah

Pertama perlu diketahui bahwa manusia diciptakan Allah segambar dan serupa dengan Allah (Kej. 1:26-27). Dalam pengertian ini mau menunjukkan bukti bahwa Allah ingin menjalin relasi yang unik dan dinamis, dan membuat perjanjian dengan manusia menurut gambar-Nya. Dengan keadaan tersebut manusia memiliki kemampuan untuk melakukan yang baik dan benar serta mempertanggungjawabkannya. Manusia dituntut untuk bertindak dan berlaku sebagaimana gambar Allah. Maka untuk menjaga relasi dengan Allah, manusia harus mampu melakukan perbuatan yang baik dan benar. Jika manusia tidak dapat melakukan tindakan yang secitra dengan Allah, hal itu akan merusak relasi dengan-Nya. Tindakan yang merusak relasi dengan Allah adalah perbuatan dosa. Manusia yang berdosa bukan hanya merusak relasi yang dibangun bersama Allah, tetapi juga mengaburkan gambar Allah yang ada dalam dirinya.

     Manusia berdosa karena dirinya ingin sama dengan Allah atau ingin lebih dari Sang Pencipta, bukan menyadari dirinya sebagai makhluk ciptaan. Hal ini bisa dilihat bahwa pada awal penciptaan manusia, Hawa digoda oleh ular dengan buah yang dilarang Allah. Jika dirinya memakan buah itu, maka ia akan sama seperti Allah (Kej 1:4). Ini merupakan awal kerusakan relasi antara Allah dan manusia. Pertama manusia tidak taat kepada Allah dan kedua dirinya ingin menjadi sama dengan Allah. Penghianatan manusia terhadap relasi Allah merupakan suatu kesombongan.[3] Relasi yang telah dibentuk bersama Allah dilukiskan dalam PL sebagai relasi sahabat, saling percaya dan relasi keluarga. Namun manusia tidak mau menjadi keluarga. Tuhan dilihat  sebagai ancaman atas kebebasannya. Manusia pendosa memalingkan punggung dan berbalik dari Allah.[4]

Dalam Perjanjian Baru manusia tertutup dengan inisiatif Allah yang membangun relasi lewat pewahyuan-Nya. Kedatangan Yesus Kristus menjadi tanda Allah menunjukkan kasih kepada manusia. Yesus hadir untuk mewartakan Kerajaan Allah. Dosa sebenarnya merupakan suatu penggunaan kebebasan diri. Ia memiliki semangat untuk mementingkan diri yang berakar dalam hati dan kehendak diri yang berperang melawan rencana Allah.[5] Perjanjian Baru membahasakan bahwa manusia pendosa tidak mau menjadi anak dari Bapa yang baik. Hal ini seperti kisah tentang anak yang hilang (Luk 15:11-31). Kebebasan yang dimiliki manusia dapat membuat diri menjadi hilang arah utamanya, yakni merubah haluan dari tujuan kepada Kerajaan Allah. Maka dengan penuh tanggung jawab, manusia bermoral menyadari diri untuk lebih setia akan iman kepadan Kristus.

Penutup

Keadaan manusia yang diberikan kebebasan perlu adanya rasa berdosa pada diri manusia. Manusia perlu tahu tindakan yang dilakukan dirinya. Apakah melanggar hukum Allah atau tidak. Keadaan dunia saat ini, penting untuk kembali menyadari diri sebagai manusia yang bersalah bila melakukan dosa. Bila rasa ini tidak muncul pada diri kita saat ini, maka dunia akan menimbulkan banyak manusia yang berperang melawan kehendak Allah dan menjauhkan diri dari Allah. Maka seharusnya manusia tidak melawan Allah dengan dosa, melainkan manusia harus melawan dosa itu.

Manusia memiliki iman dan ratio yang memapukan diri berkhendak untuk menguasai diri. Kedua hal ini menjadi merupakan dua hal yang membuka terang pikiran manusia untuk mengerti dan memahami suatu tindakan yang baik dan benar. Tindakan yang baik dan benar akan terlaksana bila iman dan ratio itu terus dikembangkan. Dan dalam hal dosa iman lebih penting supaya manusia semakin rendah hati percaya kepada Allah dalam melaksanakan hidup.



[4] Largus Nadeak. Topik-topik Moral Fundamental ... Hal. 114

[5] David Bohr. Catholic Moral Tradition


[3] Largus Nadeak. Topik-topik Moral Fundamental ... Hal. 114



[1] Largus Nadeak. Topik-topik Moral Fundamental ( Medan: Bina Media Perintis: 2015) Hal. 3

[2] Robert McLauglin. The Basic Concept of Sin, 2016

Komentar